Lukisan

Lukisan - Bagaskara Maharastu Pradigdaya Irawan

1.Lukisan berjudul Bahasa kami
Saya memilih salah satu tema Solidaritas sosial dalam bahasa isyarat. Bahasa kami adalah bahasa isyarat memiliki bahasa non verbal yang digunakan Tuli untuk berkomunikasi bahasa isyarat juga berperan sebagai alat bagi penggunanya untuk mendapatkan informasi. Bahasa isyarat diproduksi melalui gerakan tangan (gestur) dan dipersepsi melalui alat penglihatan (visual). Dalam karya lukisan ini, saya menyatakan bahwa jika seseorang tidak mempunyai suara atau lidah seperti orang Tuli, maka buatlah isyarat dengan menggunakan tangan, kepala, dan tubuh. Keyakinan terhadap bahasa isyarat sebagai bahasa manusia yang alami.
Orang Tuli adalah kelompok utama yang menggunakan bahasa ini, biasanya dengan mengkombinasikan bentuk tangan, lengan dan tubuh, serta ekspresi wajah untuk mengungkapkan pikiran mereka. Orang Tuli dipandang memiliki hidup tinggi meski tidak bisa mendengar, bangga punya budaya dan bahasa sendiri yaitu bahasa isyarat. Memiliki hak, peran, kewajiban, dan kedudukan yang sama seperti orang dengar lainnya. Bahasa menunjukkan identitas, kebangsaan dan juga menunjukkan dunia tempat suatu masyarakat hidup didalamnya.
Kita sebagai orang Tuli tetap bersatu dalam budaya minoritas dengan bahasa isyarat dan berusaha menunjukkan kepada dunia “Bahwa kita bisa” berjuang dan maju pantang mundur meski dengan keterbatasan.

2. Lukisan berjudul Upacara adat Wiwitan di Desa Prambanan
Prambanan adalah salah satu desa yang cukup terkenal dan termasyur baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Banyak wisatawan datang kesana, meski demikian desa disekitar Prambanan masih terlihat sejuk dan segar, karena masih banyak sawah dan pohon-pohon yang mengelilinginya.

Di desa Prambanan dan disekitarnnya tinggal warganya dengan rukun dan damai, salah satunya dengan diadakan upacara/ritual Adat Wiwitan yaitu dimana para warga tani berkumpul dan mengadakan acara makan bersama-sama disekitar persawahan dengan tujuan agar panen terus melimpah dan kurukunan tetap terjalin dan terjaga.

3. Lukisan berjudul Bermain kenegri dongeng
Dahulu saat aku masih kecil aku suka membaca majalah Bobo, disana terdapat cerita negri dongeng dan aku sangat menyukainya. Negri yang indah dihiasi aneka bunga warna-warni yang semerbak harumnya, dhuni oleh sekelompok kurcaci dan peri-peri kecil yang hidup damai, sejahtera, rukun sentosa, penuh tawa sungguh andai aku bisa pergi kesana pasti aku akan menyempatkan diri untuk bisa mengunjunginya dan bermain disana. Karena kini aku adalah pelukis maka semuanya itu kutuangkan dalam kanvasku dan juga goresanku tentang keinginanku bermain kenegri dongeng.

4. Lukisan berjudul Sosok gadis Tuli Jawa
Sosok gadis Jawa ini sedang menunggu kekasihnya dari luar kota, gadis menganggap kekasihnya merupakan segala-galanya dan tidak sedikit gadis yang menjadi sangat bergantung pada kekasihnya. Namun ia sekarang sedang sedih, menangis, sakit hati selamanya karena ditinggali, diingkar janji oleh kekasih tentang menikah dan tidak bertanggung jawab kepada gadis yang cintai. Itulah penulis menunjukan karya ini kepada lelaki yang pernah menyakiti pada gadis, lelaki harus tetep menjaga hubungan, tidak hanya membutuhkan cinta tapi juga komitmen, tanggung jawab, dan kesiapan finansial dari mereka berdua. Cinta saja tidak cukup untuk membuat semua orang tetap sabar dan setia. Atau memperbaiki perasaan yang terluka dan melupakan kata-kata yang menyayat hati. Bahkan cinta juga tidak cukup membuat seseorang tetap berada di jalan yang benar. Untuk itu, suatu hubungan juga membutuhkan elemen lain yang tidak kalah penting dari cinta.


Hubungi Whatsapp